STI Outlook 2015

-
04 Desember 2015

Kesimpulan kegiatan STI Outlook 2015 : Pembangunan IPTEKIN dan Kemakmuran dan Ekonomi di Negara-Negara Berintensitas Riset Rendah : Memandang Indonesia ke Depan

oleh : Ikbal Maulana

1.    Kemajuan ekonomi yang tidak diimbangi dengan peningkatan anggaran litbang mengindikasikan bahwa perekonomian kita masih dominan kegiatan ekstraktif, mengambil sesuatu dari alam tanpa memberi nilai tambah yang berarti. 
2.    Rendahnya kegiatan litbang ini bisa menjadi bom waktu ketika cadangan SDA semakin menyusut.
3.    Penganggaran litbang nasional yang kecil menandakan penelitian hanya sekedar ada, tidak dianggap sebagai penentu daya saing perekonomian nasional, dan sebagian besar mengandalkan anggaran pemerintah.
4.    Peningkatan porsi anggaran penelitian oleh swasta perlu melihat cara-cara lain di luar insentif fiskal, karena baru-baru ini Dirjen Pajak mengundurkan diri karena tidak berhasil mencapai target pendapatan pajak.
5.    Pemanfaatan hasil penelitian yang rendah diatasi dengan berbagai kegiatan hilirisasi, antara lain melalui pendirian BLU dan science-techno park (STP).
6.    Untuk mendorong peningkatan kualitas penelitian, yang ditunjukkan pada publikasi di jurnal berperingkat, diberikan insentif antara lain sebesar 100 juta rupiah, dan jumlah lainnya.
7.    Sebagian peneliti/akademisi yang telah menjadi doktor dan profesor, produktivitasnya menurun karena menganggap mereka telah mencapai tujuan mereka. Untuk mengatasi hal ini, kinerja profesor akan dievaluasi dan akan dipertimbangkan apakah tunjangannya akan diteruskan. Evaluasi yang sama akan dilakukan terhadap peneliti lainnya.
8.    Pemanfaatan anggaran penelitian yang kecil menjadi lebih tidak efektif lagi karena adanya tumpang tindih tema/topik penelitian antar-lembaga/universitas. 
9.    Kompetisi untuk mendapatkan anggaran penelitian diperlukan, baik dengan mempertimbangkan kesesuaian temanya dengan agenda penelitian nasional, maupun reputasi/kesungguhan penelitinya. 
10.    Penelitian terapan perlu melihat basis data paten, karena bisa jadi sudah ada patennya, baik patennya sudah lewat maupun masih berjalan. Karena sebagian besar paten dunia, tidak didaftarkan di Indonesia, berarti banyak teknologi yang bisa ditiru tanpa pelanggaran hak paten pihak lain. Misalnya Tiongkok meniru teknologi turbin dari Jerman yang tidak didaftarkan di kantor paten Tiongkok.
11.    Harus ada agenda riset nasional, yang bisa disusun oleh DRN, dan harus diacu oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi.
12.    Setiap negara memiliki kekuatan dalam bidang iptek tertentu, sesuai dengan konteks nasional dan perkembangan industrinya, Indonesia juga perlu menetapkan agenda litbang yang terarah dan memanfaatkan konteks lokal, misalnya dengan menekankan pada pemanfaatan SDA. Agenda ini tidak hanya menjadi instrumen pengarah penelitian nasional, sekaligus menyediakan cara pengukuran capaian dari sasaran agenda tersebut.
13.    Persaingan dalam kegiatan litbang semakin tinggi, karena negara-negara lain, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand, tidak membatasi SDM-nya hanya dari negaranya saja. Mereka juga mencari ilmuwan-ilmuwan internasional untuk bekerja di lembaga litbang mereka.
14.    Perlu komunikasi ke banyak pihak karena kegiatan litbang bisa melekat pada sektor apapun, karena itu setiap sektor sejatinya membutuhkan litbang untuk memandu pembuatan dan penerapan kebijakan mereka.
15.    Banyak ilmuwan yang belajar di luar negeri ragu untuk pulang ke Indonesia karena penelitian yang bisa mereka lakukan di negara tempat mereka belajar sulit dilakukan di Indonesia karena ketiadaan infrastruktur penelitian. Kelemahan infrastruktur ini antara lain bisa diatasi dengan bekerja sama dengan peneliti-peneliti luar.
16.    Meningkatkan jejaring penelitian antar-bangsa akan bisa meningkatkan kualitas penelitian, baik dalam kerja sama penelitiannya dan/atau publikasinya. Satu hal yang bisa menjadi daya tarik ilmuwan lain untuk melakukan kerjasama penelitian dengan kita adalah kekhasan alam Indonesia.
 

tinggalkan pesan