Hubungi : Dr. Ir. Ikbal Maulana, M.Ud
 Telepon : (021)5201602
 Email :
  • ikbal_maulana@hotmail.com

Peran LSM dalam Mendukung Kemandirian Energi di Tingkat Masyarakat

Penulis : Dr. Ir. Ikbal Maulana, M.Ud

Tahun Penelitian : 2016
Penerbit : PAPPIPTEk - LIPI
Nomor Seri penelitian : 2017-01-01-05

Topik

LSM, ketahanan dan kemandirian energi, energi terbarukan, ANT


rogram ketahanan dan kemandirian energi di tingkat masyarakat melibatkan berbagai peran stakeholders. Penelitian ini mengungkapkan peran penting Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam menciptakan ketahanan dan kemandirian energi di tingkat masyarakat. Melalui wawancara mendalam dengan para responden dan dengan menggunakan pendekatan actor network theory, peran, dan keterkaitan LSM serta stakeholders lainnya dalam menciptakan kemandirian dan ketahanan energi di tingkat masyarakat dapat ditelusuri. LSM yang menjadi fokus penelitian ini adalah IBEKA dan Hivos dari Jakarta, YDD dari Yogyakarta. Ketiga LSM ini memiliki kriteria antara lain: (1) Secara konsisten bekerja atau melakukan kegiatan berhubungan dengan energi terbarukan (implementasi, pendampingan, advokasi, pemberdayaan, dsb.) untuk jangka waktu lebih dari 10 tahun; (2) berhubungan langsung dengan masyarakat / pengguna energi; (3) memiliki pengalaman nasional atau di berbagai provinsi di Indonesia; (4) diakui dan terdaftar di Pemerintah (Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan HAM) sebagai LSM. Teknologi energi yang diimplementasikan oleh LSM tersebut untuk masyarakat, antara lain PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro), Biogas, TSHE (Tungku Sehat Hemat Energi), energi angin, dan solar sel. Kunjungan dan wawancara dilakukan terhadap sekitar 41 responden di Provinsi Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Sumba NTT. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa Ketiga LSM secara aktif membangun jejaring kerja dengan berbagai institusi dan tokoh masyarakat, serta membangun komunikasi intens dengan mereka. Proses alih teknologi langsung ke masyarakat disertai dengan program pemberdayaan masyarakat dilakukan oleh IBEKA. YDD dan Hivos masing–masing menggunakan mitra kerja untuk melakukan alih teknologinya. Dalam upaya menjaga keberlanjutan adopsi teknologi, LSM ini juga mendorong peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan bisnis atau membangun mekanisme pasar, di mana pemasok bisa memberikan layanan energi/teknologi yang andal dengan biaya yang bisa dijangkau masyarakat. Karena pasar tidak serta–merta terbangun dengan baik, pada saat awal butuh insentif dan dukungan baik keterampilan mengelola bisnis energi maupun modal. Ketiga LSM ini mampu menggaet dukungan dana dari berbagai pihak termasuk dari lembaga donor interasional. Sementara IBEKA menekankan pendekatan yang holisitik, dengan melakukan berbagai kegiatan, dalam memberdayakan suatu masyarakat. YDD dan Hivos melakukan pengembangan rantai pasok yang melibatkan banyak pihak, sehingga peran kedua organisasi ini lebih terbatas namun dengan jangkauan kegiatan yang lebih luas. Saran yang dapat disampaikan diantaranya masih diperlukan penelitian lanjutan untuk lebih mendalami bagaimana kiat dan strategi LSM dalam mendapatkan kepercayaan pihak asing, terutama untuk mendapatkan dana hibah bagi masyarakat. Selain itu, Untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang kemandirian energi di tingkat masyarakat diperlukan juga penelitian lanjutan terkait dengan pembentukan rantai pasok energi terbarukan, khususnya untuk energi di tingkat masyarakat (off–grid) di perdesaan.