SWASEMBADA GARAM: Teknologi untuk Petani Stagnan

-
15 Agustus 2017

Meski komoditas yang dihasilkan bernilai strategis bagi pangan dan industri, petani garam hingga kini tetap terpinggirkan. Inovasi teknologi dan kebijakan untuk mendukung mereka pun sangat kurang. Dampaknya, industri garam sulit berkembang dan garam impor terus dijadikan pilihan pintas.

Sebagian besar produksi garam nasional dihasilkan petani atau petambak garam. Seluruh proses produksi garam rakyat itu, dari produksi hingga penjualan, masih dilakukan secara tradisional. Konsekuensinya, proses produksi garam tak efisien, jumlahnya sulit diprediksi, dan mutunya pun sulit dikendalikan.

Pembuatan garam oleh petani umumnya dengan cara sederhana, tanpa sentuhan teknologi. “Air laut hanya diuapkan dengan sinar matahari melalui beberapa kolam penguapan hingga didapat kristal garam,” kata Kepala Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Tegal Moch Muchlisin, pekan lalu.

Dalam teknik tradisional, air laut ditampung di kolam penampung untuk mengendapkan kotoran dan meningkatkan kepekatannya. Pada tingkat kepekatan tertentu, air dialirkan ke sejumlah kolam peminihan, biasanya lima kolam. Makin banyak melalui kolam peminihan, air laut yang didapat kian pekat.

Dari kolam peminihan, dihasilkan air tua yang merupakan bahan untuk mendapat kristal garam. Air tua itu dialirkan ke lahan disebut meja kristalisasi. Setelah diuapkan beberapa hari, diperoleh kristal-kristal garam.

Semua proses itu, mulai dari kolam penampungan hingga meja kristalisasi, mengandalkan pada sinar matahari. Alhasil, saat kemarau 2016 dengan intensitas hujan tinggi atau kemarau basah, produksi garam nasional pun anjlok dan memicu kelangkaan garam saat ini.

Pengetahuan kurang

Mayoritas petani garam di Indonesia memproduksi garam secara turun-temurun, tanpa paparan pengetahuan baru dan sentuhan teknologi berarti. “Keterbatasan pengetahuan jadi hambatan internal petani garam,” kata Direktur Kawasan Iptek (Science and Techno Park) Garam Universitas Trunojoyo Madura Makhfud Efendy.

Banyak petani melepas air tua ke meja kristalisasi tanpa pengontrolan ketat tingkat kepekatannya, air tua yang dilepas bermutu rendah. Dampaknya, proses penguapan di meja kristalisasi butuh waktu lebih lama dan kadar natrium klorida (NaCl) yang dihasilkan rendah.

Di sisi lain, petani umumnya langsung memanen lapisan garam pertama di meja kristalisasi. Seharusnya lapisan garam pertama itu dijadikan alas untuk produksi garam berikutnya.

Untuk meningkatkan kuantitas dan mutu garam, pemerintah menyebarkan teknologi geomembran. Teknologi sederhana itu dipakai berdasarkan prinsip geoisolator untuk mempercepat penguapan. Caranya melapisi meja kristalisasi dengan plastik geomembran berupa plastik polietilena densitas rendah (LDPE) berwarna hitam.

“Penggunaan geomembran mendorong produksi garam dua kali dengan waktu produksi separuh waktu produksi garam biasa,” kata Muchlisin.

Namun, menurut ahli garam BPPP Tegal, Dradjat, banyak petani pemakai teknologi geomembran enggan mencuci dan meniriskan garam yang didapat. Akibatnya, kadar NaCl garamnya rendah, kurang dari 95 persen. Industri menghendaki garam kadar NaCl lebih dari 97 persen. “Garam yang dihasilkan lebih banyak dan putih, tapi NaCl tak sesuai kebutuhan garam industri,” ujarnya.

Akses pasar

Keengganan petani mencuci dan meniriskan garam karena tak tahu harga garam industri. Selama ini, garam petani tanpa geomembran dihargai Rp 300 per kilogram, sedangkan garam dengan geomembran tanpa pencucian dan penirisan Rp 400 per kg. “Petani tak tahu harga garam industri karena akses pasar ke industri dikuasai tengkulak,” ucap Dradjat.

Selain geomembran, sejumlah perusahaan menawarkan inovasi teknologi produksi garam berupa rumah prisma. Teknologi itu diklaim bisa mengatasi soal mendasar pembuatan garam di Indonesia yang mengandalkan sinar matahari, yakni cuaca tak menentu.

Dengan teknologi rumah prisma, plastik geomembran tak hanya untuk melapisi lahan garam, tapi juga sebagai atap atau naungan tambak garam. Cara itu diklaim meningkatkan produksi garam dua kali dan garam yang diproduksi lebih bersih.

Masalahnya, rumah prisma masih proses uji coba. Biayanya mahal, sekitar Rp 100 juta per 1 hektar tambak. Kelayakannya untuk diaplikasikan bagi petani garam berskala luas sesuai kondisi sosial budaya petani garam Indonesia harus diuji.

Makhfud menambahkan, berbagai konsep teknologi yang ditawarkan bagi petani perlu ditimbang secara matang agar tak merugikan petani. Teknologi paling efisien, ekonomis, bisa diterapkan dan menguntungkan petani harus jadi pertimbangan.

Teknologi produksi garam hanyalah alat bantu. Penerapan teknologi tanpa dukungan kebijakan yang membuka akses petani garam pada informasi, modal, dan pasar, hanya mengulang cerita kegagalan penerapan teknologi yang tak utuh.

(M ZAID WAHYUDI)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Agustus 2017 di halaman 4 dengan judul "Teknologi untuk Petani Stagnan". 

https://kompas.id/baca/ilmu-pengetahuan-teknologi/2017/08/15/teknologi-untuk-petani-stagnan/

tinggalkan pesan