+62 21 520 1602 pappiptek@mail.lipi.go.id

Berita Iptek

 

Detail Berita Iptek

Asian Games 2018: Apakah Sport Science Telah Mendongkrak Prestasi Olahraga Indonesia?

BBC News Indonesia - Asian Games 2018 telah berakhir dan kontingen Indonesia telah meraih 31 medali emas, yang merupakan prestasi terbaik tim Merah-Putih sejak pesta olahraga terakbar Benua Asia itu pertama digelar pada 1951 lampau.

Kementerian Pemuda dan Olahraga mengklaim bahwa raihan ini merupakan dampak penerapan sport science alias sains olahraga.

"Dengan kebijakan baru pemerintah, setiap induk cabor (cabang olahraga) wajib merekrut tenaga sport science dari perguruan tinggi. Dua tahun ini kami sudah melakukan seperti itu dan dampaknya, hasil yang kita peroleh sekarang ini mungkin adalah bagian dari penerapan sport science," kata Deputi 4 Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Mulyana.

Ke depan, Mulyana mengatakan Indonesia akan memiliki Pusat Olimpiade yang melibatkan sains olahraga demi meningkatkan prestasi.

"Untuk atlet elite yang menuju Olimpiade dan Asian Games, kami sudah merancang Olympic Centre. Jadi dipadukan antara rumah sakit, laboratorium, dan tempat-tempat latihan atlet cabang unggulan," ujar Mulyana.

Tempat tersebut, tambahnya, juga akan memiliki para pakar di bidang nutrisi, psikologi, biomekanika, serta kedokteran olahraga. Dicita-citakan tempat itu bakal berfungsi seperti Institut Olahraga Australia serta Insitut Ilmu Olahraga Jepang.

Akan tetapi, ketika ditanya kapan Pusat Olimpiade itu akan direalisasikan, Mulyana mengatakan "masih diperjuangkan".

Apa itu sains olahraga?

Sport science sejatinya merupakan ilmu multidisiplin yang mencakup fisiologi, psikologi, biomekanika, nutrisi, dan kedokteran olahraga, menurut Tommy Apriantono, Ketua Kelompok Keilmuan Sports Sciences, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung.

Indonesia, kata Tommy yang menekuni studi biomekanika di Universitas Nagoya, Jepang, memang sudah menerapkan sport science. Tapi, dibandingkan dengan negara seperti Jepang, Cina, dan Korea Selatan, Indonesia tertinggal jauh.

"Untuk mengejar negara seperti Jepang, Indonesia memang butuh waktu yang lama. Karena Cina, Jepang, Korea Selatan, sudah menciptakan atlet, by design, bukan menunggu. Kalau kita kan kebanyakan menunggu. Tiba-tiba Lalu Muhammad Zohri muncul," papar Tommy.

Dia mencontohkan bagaimana Jepang menciptakan atlet di Institut Ilmu Olahraga.

Dalam kunjungannya ke institut tersebut, Tommy menyaksikan para atlet dayung Jepang mendapat simulasi gerakan Sungai Thames, beberapa tahun sebelum Olimpiade London digelar pada 2012.

"Semua gerakan dipelajari dan disimulasikan di ruangan sehingga atlet terbiasa dengan gerakan Sungai Thames," tuturnya.

Contoh lainnya, para atlet maraton Jepang dipersiapkan mengikuti Olimpiade Sidney pada 2000 silam dengan menjalani latihan di ruangan yang dirancang serupa dengan kondisi ketika pertandingan digelar, termasuk suhu, kontur jalan, hingga kelokan rute.

Bagaimana dengan Indonesia?

Soal sport science, Indra Sjafri selaku pelatih tim nasional sepakbola U-19 mengaku telah menerapkannya. Dalam skuat Indonesia, dia mengaku didampingi tim dokter, ahli gizi, dan fisioterapis.

Namun, soal peralatan canggih yang lazim dipakai pesepakbola di Eropa, Indra mengatakan Indonesia memang belum memilikinya.

"Kita tidak berkeluh kesah kalau alatnya kurang. Banyak hal yang kita bisa lakukan secara manual, walaupun alat kita nggak modern. Contoh cryotherapy, harus ada ruangan sauna yang khusus dan modern. Kita nggak punya itu, jadi yang saya melakukan di timnas angkatan Evan Dimas cs, saya pakai tiga tong berisi air dingin, air netral, dan air es. Tujuannya sama dengan alat-alat modern, yaitu untuk mempercepat pemulihan tubuh," papar Indra kepada BBC News Indonesia.

Ditanya soal sport science yang menjurus ke perumusan taktik dengan menggunakan statistik dan penyempurnaan teknik melalui ilmu biomekanika, Indra mengangkat bahu.

"Kita belum sampai ke situ. Kalau dibandingkan dengan dunia sepak bola di Eropa dengan Indonesia, itulah ketertinggalan kita," cetusnya.

Bukan masalah utama

Soal jauhnya ketertinggalan sport sains Indonesia dengan negara-negara, seperti Jepang, Cina, dan Korsel diakui menurut Amal Ganesha, selaku salah satu pendiri Yayasan Ganesport—sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan menciptakan pembangunan berkelanjutan melalui olahraga.

"Contoh di sepakbola. Dunia sepakbola sudah lama mengenal statistik, bahkan ada penyedia jasa statistik untuk sepakbola di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Tapi pelatih sepakbola di Indonesia banyak yang standar lisensi kepelatihannya tidak tergolong elite. Jadi, pelatih tidak tahu bagaimana menggunakan statistik, padahal itu sport science," papar Amal.

Mendorong agar olahraga prestasi Indonesia menggunakan sport science, menurut Amal, bukan solusi tunggal karena penerapan sport sains dan tajamnya perbedaan penerapan pengetahuan olahraga antara Indonesia dan negara-negara maju bukanlah masalah utama.

Amal, yang lulusan pascasarjana manajemen olahraga dari Universitas Coventry, Inggris, itu menilai masalah olahraga prestasi di Indonesia adalah tata kelola.

"Ada beberapa atlet yang saya ajak bicara, mereka mengaku tidak punya pekerjaan jika pelatnas dan ajang Asian Games selesai. Itu artinya olahraga kita tidak menciptakan keberlanjutan. Ini masalah. Bagaimana atlet mau konsentrasi jika kesejahteraan tidak terjamin?" cetusnya.

Jerome Wirawan/BBC News Indonesia

Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/olahraga-45386628