+62 21 520 1602 pappiptek@mail.lipi.go.id

Agenda Pertemuan Ilmiah

 

Detail Agenda Pertemuan Ilmiah

: Simposium Sustainable Science and Sustainable Solutions in The Era of Sustainable Development Goals

: 29 April 2019

Pada hari senin, 29 April 2019, perwakilan dari P2KMI (Pappiptek) berkesempatan untuk menghadiri acara Simposium Sustainable Science and Sustainable Solutions in the era of Sustainable Development Goals (SDGs) yang diselenggarakan oleh Akademi  Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI), bersama Institute for Sustainable Earth and Resources – FMIPA UI, dan Sekretariat Nasional SDGs Bappenas. Acara ini dihadiri oleh Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro; Kepala AIPI, Satryo Brodjonegoro; dan Dekan FMIPA UI, Abdul Haris. Hadir pula dua pembicara utama, yakni Dr. Robert Hales dari Griffith Centre for Sustainable Enterprise yang membawakan materi “The Importance/Application of Science to Achieve SDGs and Sustainable Enterprise” dan Prof. Jeffrey Sayer dari University of British Columbia, Kanada dengan materi “Sustainable Landscape and Products in Extractive Industries”.

Dalam pembukaannya, Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa SDGs di Indonesia merupakan sebuah target yang ambisius yang hanya dapat dicapai melalui kerjasama yang konstruktif dan positif antara aktor pemerintah, parlemen, filantrop dan pelaku usaha, akademisi dan pakar, serta ormas dan media yang dilandasi dengan prinsip-prinsip saling percaya, saling menghormati, saling terbuka, dan saling mengisi. Untuk itu, Bambang mengajak kepada seluruh aktor untuk dapat lebih memperkuat kemitraan yang ada demi suksesnya SDGs di Indonesia.

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mencapai sebuah kehidupan yang layak dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan. SDGs berisi 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. Adapun ketujuh belas tujuan tersebut antara lain adalah (1) menghapus kemiskinan; (2) mengakhiri kelaparan; (3) kesehatan yang baik dan kesejahteraan; (4) pendidikan bermutu; (5) kesetaraan gender; (6) akses air bersih dan sanitasi; (7) energi bersih dan terjangkau; (8) pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; (9) infrastruktur, industri, dan inovasi; (10) mengurangi ketimpangan; (11) kota dan komunitas yang berkelanjutan; (12) konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab; (13) penanganan perubahan iklim; (14) menjaga ekosistem laut; (15) menjaga ekosistem darat; (16) perdamaian dunia, keadilan, dan kelembagaan yang kuat; dan (17) kemitraan global yang kuat.

Dalam acara tersebut, Bambang Brodjonegoro lebih menaruh perhatian besar kepada tujuan kesembilan (9) karena kaitannya yang erat dengan pencapaian tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan lainnya. Di Indonesia, peran IPTEK terhadap produktivitas ekonomi masih jauh dari optimal. Hal ini tercermin pada kontribusi Total Factor Productivity (TFP) terhadap pertumbuhan GDP yang masih rendah. Bahkan, berdasarkan APO Productivity Database for 2017, sepanjang tahun 1970 – 2015, kontribusi TFP terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar 3%, masih jauh tertinggal dengan negara-nagara Asia dan OECD lainnya seperti Vietnam (16%), Thailand (24%), Amerika Serikat (28%), Jepang (31%), dan Tiongkok (34%). Bahkan jika ditarik dalam rentang waktu tahun 2000 – 2015, dari sebesar 5,2% pertumbuhan PDB Indonesia, hanya sebesar 0,9% bersumber dari TFP. Kontribusi TFP ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia (1,2%) dan Thailand (2,4%). Untuk itu, penguatan kemitraan antar para aktor menjadi kunci utama dalam suksesi SDGs di Indonesia.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab yang dihadiri oleh berbagai praktisi dari beberapa bidang industri. Adapun beberapa tema di dalamnya antara lain:

  1. Best sustainable solutions from Fast Moving Consumer Goods (FMCG) companies;
  2. Best sustainable practices on extractive industries;
  3. Best practices on social inclusion and community empowerment;
  4. Best practices on SDGs Financing; and
  5. Best practices for achieving sustainable tourism.

Oleh: Aditya Wisnu Pradana